23 October 2026
Drone Mitigasi Bencana: Peran, Jenis, dan Batasannya di Indonesia

Drone mitigasi bencana kembali menjadi sorotan setelah Presiden, dalam rapat terbatas penanganan bencana pada 17 September 2026, menyatakan perlunya pengadaan drone yang dapat menjatuhkan air serta penambahan anggaran mitigasi bencana. Indonesia berada di jalur cincin api, dan data udara dari drone kini dipakai dari tahap pemetaan risiko sampai pencarian korban. Artikel ini menjelaskan peran, jenis, dan batasan drone untuk kebencanaan, agar Anda tahu apa yang realistis dan apa yang tidak.
Ringkasan: Apa yang Bisa Dilakukan Drone untuk Mitigasi Bencana?
Drone paling kuat di tiga hal: memetakan wilayah terdampak dengan cepat, memantau area berbahaya tanpa mempertaruhkan personel, dan mendeteksi panas lewat kamera termal. Drone tidak menggantikan tim SAR, helikopter, atau alat berat. Perannya melengkapi, terutama pada fase awal ketika informasi lapangan paling dibutuhkan.
Fakta Berita: Drone dalam Penanganan Bencana 2026
Bagian ini memuat fakta dari sumber resmi dan pemberitaan. Analisis kami ada di bagian setelahnya.
- 17 September 2026: menurut rilis Sekretariat Negara, Presiden meminta anggaran mitigasi bencana ditambah signifikan dan menyebut perlunya mengadakan drone yang bisa melempar air, dengan contoh kemampuan angkut sekitar 50 kilogram air per drone.
- 24–25 Januari 2026: setelah banjir bandang dan longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, Setneg melaporkan operasi SAR didukung unsur udara berupa drone, dan Tim Reaksi Cepat BNPB melakukan kaji cepat serta pemetaan udara dengan drone.
- 9 April 2026: dalam diskusi “Ngopi Bareng BNPB”, BNPB menyebut drone thermal mendukung tim pencarian dan pertolongan, dan data drone di Cisarua menunjukkan masih ada pergerakan tanah di wilayah hulu yang berisiko bagi tim penyelamat.
- 30 Juli 2026: RRI melaporkan tim BNPB membawa drone thermal ke Aceh Barat untuk memantau titik panas dan suhu bawah permukaan pada penanganan kebakaran hutan dan lahan. Hasil awal menunjukkan masih ada bara di bawah permukaan tanah.
Peran Drone di Setiap Fase Penanggulangan Bencana
Tabel berikut disusun penulis berdasarkan sumber di atas dan praktik umum pemetaan udara.
| Fase | Peran drone | Contoh |
|---|---|---|
| Pra-bencana (mitigasi) | Pemetaan kawasan rawan, model elevasi, pemantauan perubahan lereng dan alur sungai | Peta topografi dan model 3D area lereng atau bantaran sungai |
| Tanggap darurat | Kaji cepat, pemetaan area terdampak, pemantauan risiko susulan, pencarian korban | Pemetaan udara dan pemantauan longsor di Cisarua, Januari 2026 |
| Kebakaran hutan dan lahan | Deteksi titik panas dan bara bawah permukaan dengan kamera termal | Drone thermal BNPB di Aceh Barat, Juli 2026 |
| Pemulihan | Penilaian kerusakan dan pemantauan progres rehabilitasi | Perbandingan peta sebelum dan sesudah pembangunan kembali |
Jenis Drone untuk Kebencanaan dan Kegunaannya
Tidak ada satu drone yang cocok untuk semua kebutuhan. Perbandingan berikut adalah panduan umum dari penulis.
| Jenis | Cocok untuk | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Multirotor | Pemantauan detail, inspeksi lereng, pencarian di area sempit, melayang di titik tertentu | Jangkauan dan durasi terbang terbatas |
| Fixed wing / VTOL | Pemetaan area luas dalam satu penerbangan | Tidak bisa melayang; butuh operator berpengalaman |
| Drone dengan kamera termal | Mencari sumber panas, korban hidup, bara bawah permukaan | Sulit menangkap suhu tubuh bila korban tertimbun tanah |
| Drone dengan LiDAR | Model permukaan akurat, termasuk area bervegetasi | Biaya dan kebutuhan pengolahan data lebih tinggi |
| Drone angkut / penjatuh air | Pengiriman muatan atau penjatuhan air pada titik tertentu | Muatan kecil dibanding helikopter |
Menurut ulasan Doran yang merujuk pada pernyataan BNPB, kamera termal bukan solusi yang selalu berhasil menemukan korban. Ulasan itu juga mencatat BNPB menggunakan drone fixed wing VTOL untuk cakupan pemetaan lebih luas.
Analisis: Seberapa Jauh Drone Bisa Menggantikan Helikopter?
Berikut analisis penulis berdasarkan angka yang disampaikan di rapat terbatas.
Drone Melengkapi, Bukan Menggantikan
Dalam pengantar rapat itu, Presiden menyebut helikopter kelas menengah dapat mengangkut sekitar 4–5 ton air, sedangkan satu drone yang disebutkan mampu menjatuhkan sekitar 50 kilogram. Jika sepuluh drone beroperasi bersamaan, totalnya sekitar setengah ton per misi. Artinya, drone penjatuh air lebih cocok sebagai pelengkap di titik api yang sulit dijangkau, bukan pengganti helikopter.
Nilai Terbesar Ada pada Data Cepat
Contoh Cisarua menunjukkan kekuatan utamanya: drone memberi gambaran area berbahaya sehingga tim tahu di mana risiko susulan masih ada. Informasi seperti ini membantu keselamatan personel, bukan hanya kecepatan pencarian.
Jumlah dan Jenis Alat Menentukan Efektivitas
Dalam pernyataan yang dilaporkan ANTARA, Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB pernah menyebut jumlah dan jenis drone BNPB masih terbatas dibanding luas wilayah Indonesia, dan menyebut kebutuhan drone yang lebih mutakhir seperti LiDAR. Pernyataan itu belum diverifikasi tanggalnya dan perlu dicek ulang sebelum dijadikan gambaran kondisi terkini.
Contoh Skenario Penggunaan (Ilustrasi)
Skenario berikut hanya ilustrasi alur kerja, bukan studi kasus FDS.
- Tim menerbangkan drone multirotor di sekitar area longsor untuk melihat retakan dan pergerakan tanah sebelum personel masuk.
- Drone fixed wing atau VTOL memetakan seluruh area terdampak untuk menghitung luas dan menentukan akses jalan.
- Drone termal dipakai pada malam hari atau area berasap untuk mencari sumber panas.
- Data dikirim ke posko untuk menentukan prioritas bantuan dan jalur evakuasi.
Tantangan dan Keterbatasan
- Cuaca ekstrem. Hujan lebat, angin kencang, dan kabut asap membatasi penerbangan dan kualitas data.
- Durasi baterai dan jangkauan. Area bencana luas membutuhkan baterai cadangan dan titik pengisian daya.
- Kemampuan sensor. Kamera termal tidak selalu mendeteksi korban yang tertimbun. Data tetap perlu dikonfirmasi tim darat.
- Koordinasi ruang udara. Banyak drone di satu lokasi bisa mengganggu helikopter dan operasi SAR. Operasi harus dikoordinasikan dengan otoritas di lapangan.
- Kompetensi operator. Operator perlu memahami prosedur keselamatan, aturan penerbangan, dan pelatihan sertifikasi pilot drone yang diakui Kemenhub.
- Pengolahan data. Ribuan foto perlu diproses menjadi peta yang bisa dipakai pengambil keputusan.
Rekomendasi Praktis bagi BPBD, Komunitas, dan Perusahaan
- Tentukan dulu kebutuhan utama: pemetaan, pencarian, pemantauan termal, atau logistik.
- Siapkan operator bersertifikat dan prosedur kerja sama dengan tim SAR sebelum bencana terjadi.
- Latih penerbangan di berbagai kondisi, termasuk angin dan cahaya minim.
- Siapkan baterai, pengisi daya, dan perangkat pengolahan data yang memadai.
- Simpan data pemetaan prabencana sebagai pembanding setelah kejadian.
- Pastikan semua penerbangan mematuhi ketentuan Kementerian Perhubungan dan koordinasi di lokasi.
Relevansi bagi Teknologi dan Solusi FDS
Full Drone Solutions (FDS) di Yogyakarta mengembangkan platform yang relevan untuk kebutuhan pemetaan dan inspeksi. DELTAV adalah platform fixed wing VTOL untuk pemetaan area luas, sedangkan MULTIPURPOSE dirancang untuk integrasi sensor seperti termal atau LiDAR, menurut informasi di situs FDS. Informasi ini bukan klaim bahwa FDS telah menangani operasi kebencanaan tertentu.
Untuk kesiapan sumber daya manusia, FDS Academy menyelenggarakan pelatihan sertifikasi pilot drone. Profil perusahaan tersedia di halaman tentang kami.
FAQ Seputar Drone Mitigasi Bencana
Apa fungsi drone dalam mitigasi bencana?
Fungsi utamanya memetakan kawasan rawan, memantau perubahan kondisi lahan, dan mendukung kaji cepat serta pencarian saat tanggap darurat.
Apakah drone bisa menemukan korban bencana?
Bisa membantu, terutama dengan kamera termal. Namun, sensor termal sulit menangkap suhu tubuh jika korban tertimbun tanah, sehingga hasilnya tetap perlu dikonfirmasi tim SAR.
Apakah drone bisa memadamkan kebakaran hutan?
Drone penjatuh air dapat membantu di titik tertentu, tetapi kapasitas angkutnya jauh di bawah helikopter. Drone termal lebih umum dipakai untuk mendeteksi titik panas dan bara bawah permukaan.
Jenis drone apa yang paling cocok untuk pemetaan area bencana?
Untuk area luas, fixed wing atau VTOL lebih efisien. Untuk detail dan area sempit, multirotor lebih fleksibel.
Kesimpulan
Drone mitigasi bencana memberi data cepat, mengurangi risiko bagi personel, dan membantu mendeteksi panas serta memetakan area terdampak. Namun, drone punya batasan cuaca, baterai, sensor, dan kapasitas muatan. Hasil terbaik datang dari kombinasi alat yang tepat, operator terlatih, dan koordinasi dengan tim di lapangan.
Ingin berdiskusi tentang kebutuhan drone untuk pemetaan atau inspeksi? Hubungi tim Full Drone Solutions untuk konsultasi.
Sumber Rujukan
- Sekretariat Negara (17 September 2026) – Pengantar Presiden pada Rapat Terbatas Perkembangan Penanganan Bencana Alam
- Sekretariat Negara (25 Januari 2026) – Tinjau langsung lokasi banjir bandang dan longsor di Bandung Barat
- BNPB (9 April 2026) – Lompatan Teknologi Drone: Menembus Batas Mitigasi dan Respons Bencana di Indonesia
- RRI Meulaboh (30 Juli 2026) – Tim BNPB gunakan drone thermal pantau suhu panas api di Cot Seumeureung dan Lapang
- Doran – Pemanfaatan Drone dalam Penanggulangan Bencana
Komentar & Tanggapan
0Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda!