Lewati ke konten utama

26 October 2026

Pemetaan Drone Pascabencana: Membantu Evaluasi Kerusakan dan Pemulihan Wilayah

Pemetaan drone pascabencana menjadi salah satu metode yang dapat membantu pengumpulan informasi kondisi wilayah setelah terjadi bencana alam. Di Indonesia, bencana seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi dapat mengubah kondisi permukaan tanah, merusak bangunan, serta mengganggu akses transportasi. Data foto udara dapat membantu memberikan gambaran kondisi lapangan sebagai bahan pendukung evaluasi kerusakan dan perencanaan pemulihan.

Mengapa Pemetaan Dibutuhkan Setelah Bencana?

Setelah bencana terjadi, pemerintah dan tim penanganan bencana perlu mengidentifikasi wilayah terdampak, tingkat kerusakan, serta kebutuhan penanganan prioritas. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah tanggap darurat dan pemulihan.

Namun, pengumpulan data di lapangan dapat menghadapi berbagai kendala, terutama ketika akses menuju lokasi terdampak terputus atau kondisi medan masih berbahaya.

Pemetaan berbasis drone dapat membantu mengumpulkan foto udara dari area yang direncanakan untuk disurvei. Data tersebut kemudian dapat diolah untuk menghasilkan informasi spasial yang mendukung proses evaluasi wilayah terdampak.

Contoh Pemanfaatan Pemetaan Drone di Indonesia

Pemanfaatan teknologi ini telah terlihat dalam penanganan bencana di Indonesia.

Pada 1 Oktober 2026, Badan Informasi Geospasial (BIG) menerbitkan kajian mengenai jejak galodo atau banjir lahar di Arosuka, Sumatera Barat. Analisis tersebut menggunakan foto udara beresolusi tinggi yang diperoleh melalui akuisisi tim Basarnas dan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), serta didukung data Digital Elevation Model (DEM) dan informasi geospasial tematik.

BIG mendelineasi wilayah terdampak seluas 351.078,73 meter persegi. Analisis ini membantu menggambarkan luasan terdampak, sebaran bangunan, karakter medan, serta keterkaitan lokasi bencana dengan kawasan rawan lahar Gunung Talang.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa foto udara dan analisis geospasial dapat berperan dalam memahami dampak bencana serta mendukung perencanaan mitigasi di masa mendatang.

BACA  Drone Pemetaan Fixed Wing: Kapan Lebih Unggul dari Multirotor?

Sumber: Badan Informasi Geospasial — Mengungkap Jejak Galodo Arosuka.

Bagaimana Drone Membantu Pemetaan Pascabencana?

1. Mendokumentasikan Kondisi Wilayah dari Udara

Drone dapat mengambil foto udara yang memperlihatkan kondisi area terdampak dari perspektif yang lebih luas. Dokumentasi ini dapat membantu tim mengidentifikasi perubahan kondisi lahan, kerusakan yang terlihat, serta area yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

2. Membantu Mengidentifikasi Kerusakan

Foto udara yang memiliki cakupan dan kualitas memadai dapat diolah untuk membantu mengidentifikasi bangunan, jalan, jembatan, atau area lahan yang terlihat terdampak. Hasil identifikasi perlu diverifikasi dengan data pendukung atau pemeriksaan lapangan sebelum digunakan untuk keputusan penting.

3. Menghasilkan Peta Ortofoto

Melalui metode fotogrametri, kumpulan foto udara yang diambil dengan perencanaan dan tumpang tindih yang sesuai dapat diolah menjadi ortofoto.

Ortofoto merupakan citra yang telah dikoreksi secara geometris sehingga dapat digunakan untuk melihat kondisi permukaan wilayah dengan skala yang lebih konsisten. Produk ini dapat membantu dokumentasi, pengukuran area, dan perbandingan kondisi wilayah apabila tersedia data pembanding yang sesuai.

4. Mendukung Analisis Topografi

Dalam kondisi dan konfigurasi survei yang tepat, data drone dapat digunakan untuk menghasilkan model elevasi atau model permukaan. Informasi ini dapat membantu analisis perubahan medan, area longsoran, aliran material, dan karakteristik topografi.

Untuk menghasilkan informasi elevasi yang andal, survei perlu memperhatikan metode pemrosesan, titik kontrol atau data referensi yang sesuai, serta keterbatasan vegetasi dan kondisi medan.

5. Membantu Perencanaan Pemulihan

Hasil pemetaan dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk membantu menyusun prioritas survei lanjutan, mengevaluasi kondisi infrastruktur, dan merencanakan rehabilitasi wilayah terdampak.

Data drone tetap perlu dipadukan dengan informasi dari instansi terkait, hasil pemeriksaan lapangan, serta data kebencanaan lainnya agar keputusan pemulihan didasarkan pada informasi yang memadai.

Drone Mapping dan Fotogrametri untuk Kebutuhan Kebencanaan

Drone mapping tidak hanya digunakan untuk survei konstruksi, pertambangan, atau perkebunan. Dalam konteks kebencanaan, teknologi ini juga dapat mendukung pengumpulan data spasial ketika kondisi lokasi memungkinkan penerbangan dilakukan dengan aman.

BACA  Kunjungan Industri Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Brawijaya ke Full Drone Solutions

Fotogrametri memungkinkan foto udara diproses menjadi produk geospasial, seperti ortofoto dan model tiga dimensi. Produk yang dihasilkan bergantung pada jenis kamera, perencanaan penerbangan, kualitas foto, metode pemrosesan, dan kebutuhan akurasi.

Pada lokasi yang berisiko, operasi pemetaan harus memperhatikan kondisi cuaca, potensi longsor susulan, kabel listrik, ruang udara, serta koordinasi dengan tim tanggap darurat. Pengambilan data tidak boleh mengganggu operasi penyelamatan atau membahayakan personel.

Peran Teknologi Drone dalam Pengembangan Industri Geospasial Indonesia

Kebutuhan data spasial yang semakin beragam membuka peluang pemanfaatan teknologi drone untuk mendukung survei dan pemetaan di berbagai sektor. Selain kebencanaan, data udara dapat digunakan dalam perencanaan wilayah, inventarisasi aset, pemantauan perubahan lahan, dan dokumentasi proyek infrastruktur.

Bagi penyedia teknologi drone dan layanan pemetaan, perkembangan ini juga menegaskan pentingnya menguasai alur kerja secara menyeluruh, mulai dari perencanaan misi, pengumpulan data, pengolahan foto, hingga penyajian hasil yang dapat digunakan oleh pemangku kepentingan.

Full Drone Solutions (FDS) bergerak di bidang teknologi drone dan solusi pendukungnya. Pemanfaatan drone untuk pemetaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan proyek, karakteristik lokasi, perangkat yang digunakan, dan standar kualitas data yang ditetapkan.

Informasi lebih lanjut mengenai Full Drone Solutions dapat dilihat melalui situs resmi FDS.

Kesimpulan

Pemetaan drone pascabencana dapat membantu menyediakan gambaran kondisi wilayah terdampak melalui foto udara dan produk geospasial. Informasi tersebut berpotensi mendukung evaluasi kerusakan, analisis topografi, dokumentasi kondisi lapangan, serta perencanaan pemulihan.

Pengalaman pemetaan galodo Arosuka yang dipublikasikan BIG pada Oktober 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana foto udara dan analisis geospasial dapat digunakan untuk memahami dampak bencana di Indonesia.

Meski demikian, hasil pemetaan drone bukan pengganti seluruh proses asesmen lapangan. Integrasi data udara, pemeriksaan langsung, dan informasi dari instansi terkait tetap diperlukan agar penanganan bencana dan pemulihan wilayah dilakukan berdasarkan informasi yang akurat.

Sumber Referensi

  1. Badan Informasi Geospasial (BIG), Mengungkap Jejak Galodo Arosuka, 1 Oktober 2026.
  2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lompatan Teknologi Drone Menembus Batas Mitigasi dan Respons Bencana di Indonesia.

Komentar & Tanggapan

0
Tulis Komentar ↓

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *