23 October 2026
Apakah Drone Pertanian Hanya Cocok untuk Tanaman Padi? Ini Potensi Penggunaannya pada Berbagai Komoditas

Apakah Drone Pertanian Hanya Cocok untuk Tanaman Padi? Ini Potensi Penggunaannya pada Berbagai Komoditas
Pemanfaatan drone dalam sektor pertanian Indonesia semakin berkembang. Teknologi ini mulai dikenal untuk membantu penyemprotan pupuk dan pestisida pada tanaman padi. Namun, penggunaan drone pertanian sebenarnya tidak terbatas pada lahan persawahan.
Berbagai komoditas, termasuk sayuran dan tanaman hortikultura, memiliki peluang untuk memanfaatkan teknologi drone sesuai kebutuhan budidayanya. Penggunaannya dapat mencakup penyemprotan, pemantauan kondisi tanaman, hingga pengumpulan data untuk mendukung pengelolaan lahan.
Salah satu perkembangan menarik terjadi pada Februari 2026. Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran (BRMP Sayuran) bersama mitra teknologi melaksanakan uji coba penggunaan drone untuk mendukung budidaya sayuran di Kebun Percobaan Margahayu. Kegiatan tersebut mengeksplorasi pemanfaatan drone untuk pemantauan kesehatan tanaman, pengendalian gulma, serta aplikasi pupuk dan pestisida.
Uji coba tersebut menunjukkan bahwa teknologi drone mulai dieksplorasi di luar budidaya padi. Namun, penerapannya pada berbagai komoditas tetap memerlukan pengujian dan penyesuaian sesuai karakteristik tanaman serta kondisi lahan.
Lantas, tanaman apa saja yang berpotensi memanfaatkan drone pertanian, dan apa yang perlu diperhatikan sebelum teknologi ini diterapkan?
Apakah Drone Pertanian Hanya Digunakan pada Tanaman Padi?
Tidak. Drone pertanian dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan budidaya, tergantung pada jenis perangkat dan perlengkapan yang digunakan.
Pada tanaman padi, drone sprayer banyak dibahas untuk membantu aplikasi pupuk cair dan pestisida pada area persawahan. Di luar komoditas tersebut, teknologi drone juga dapat dieksplorasi untuk membantu pengelolaan tanaman sayuran, tanaman hortikultura, dan beberapa komoditas perkebunan.
Meski demikian, tidak semua drone memiliki fungsi yang sama. Drone sprayer dirancang untuk membawa dan menyemprotkan cairan, sedangkan drone pemetaan digunakan untuk mengumpulkan citra udara. Ada pula drone yang dilengkapi sistem khusus untuk menebarkan benih atau material berbentuk butiran.
Karena itu, pemilihan drone perlu dimulai dari kebutuhan pekerjaan di lahan, bukan hanya dari jenis tanaman yang dibudidayakan.
1. Drone Pertanian untuk Tanaman Padi
Tanaman padi menjadi salah satu contoh penerapan drone pertanian yang semakin dikenal di Indonesia.
Drone sprayer dapat membantu proses aplikasi pupuk cair maupun pestisida pada lahan yang sesuai. Dengan perencanaan jalur terbang dan pengaturan aplikasi yang tepat, pekerjaan penyemprotan dapat dilakukan secara lebih terencana.
Teknologi ini berpotensi membantu mengurangi beban pekerjaan manual, terutama ketika area yang dikelola cukup luas atau jadwal aplikasi perlu dilakukan dalam waktu terbatas.
Namun, efektivitasnya tetap dipengaruhi oleh luas lahan, kondisi tanaman, cuaca, jenis bahan yang diaplikasikan, serta kemampuan operator. Penggunaan drone juga tidak menggantikan kebutuhan untuk memantau kondisi tanaman dan mengevaluasi hasil aplikasi.
2. Drone Pertanian untuk Tanaman Sayuran
Sayuran merupakan salah satu komoditas yang mulai dieksplorasi untuk penerapan teknologi drone.
Pada Februari 2026, BRMP Sayuran melaporkan uji coba penggunaan drone di Kebun Percobaan Margahayu. Kegiatan tersebut membahas potensi pemanfaatan drone untuk pemantauan kesehatan tanaman, deteksi awal indikasi hama dan penyakit, pengendalian gulma, serta penyemprotan pupuk dan pestisida.
Pemanfaatan tersebut menarik karena budidaya sayuran memiliki karakteristik yang beragam. Ada tanaman yang tumbuh rapat, tanaman dengan tajuk relatif rendah, dan tanaman yang ditanam dalam barisan dengan jarak tertentu.
Perbedaan tersebut memengaruhi cara teknologi drone diterapkan. Pola penerbangan, ketinggian, lebar kerja, serta karakteristik semprotan perlu disesuaikan agar aplikasi dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Untuk tanaman sayuran, beberapa potensi pemanfaatan drone meliputi:
- Aplikasi pupuk cair: membantu proses pemupukan pada lahan yang sesuai dengan metode aplikasi.
- Aplikasi pestisida: mendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman sesuai rekomendasi teknis.
- Pemantauan lahan: membantu operator atau pengelola melihat kondisi area tanaman dari sudut pandang udara.
- Pengumpulan data visual: membantu mengidentifikasi bagian lahan yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Perlu diperhatikan bahwa citra udara tidak selalu dapat memastikan penyebab tanaman mengalami gangguan. Pemeriksaan langsung di lapangan tetap dibutuhkan untuk mengonfirmasi indikasi hama, penyakit, atau kekurangan unsur hara.
3. Drone Pertanian untuk Tanaman Hortikultura
Hortikultura mencakup beragam tanaman, termasuk sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias. Karena karakteristik setiap komoditas berbeda, penerapan drone perlu disesuaikan dengan kebutuhan budidayanya.
Pada area hortikultura yang cukup luas dan terbuka, drone berpotensi membantu pemantauan lahan atau aplikasi bahan tertentu apabila metode tersebut sesuai dengan karakteristik tanaman.
Sementara itu, lahan dengan tanaman yang tinggi, tajuk yang lebat, atau susunan barisan yang rapat memerlukan pertimbangan tambahan. Operator perlu memperhatikan jarak terhadap tanaman, hambatan di sekitar area, serta kemungkinan perubahan aliran udara dan distribusi semprotan.
Pada komoditas buah-buahan, misalnya, kondisi tajuk tanaman dapat memengaruhi jangkauan aplikasi. Oleh sebab itu, penggunaan drone tidak dapat disamakan begitu saja antara kebun buah, lahan sayuran, dan sawah.
Sebelum penerapan diperluas, pengujian pada komoditas dan kondisi lahan yang relevan menjadi langkah penting untuk menilai kesesuaian teknologi.
4. Drone untuk Pemetaan dan Pemantauan Lahan Pertanian
Selain membawa sistem penyemprotan, drone juga dapat dimanfaatkan untuk mengambil gambar udara sebagai bahan pemetaan dan pemantauan lahan.
Informasi visual dari udara dapat membantu pengelola memahami batas area, susunan petak, kondisi umum lahan, serta bagian yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Jika dilengkapi sensor dan metode analisis yang sesuai, data drone juga dapat digunakan untuk mempelajari variasi kondisi tanaman di suatu area. Meski demikian, hasil analisis sangat bergantung pada jenis sensor, kualitas data, kondisi pengambilan gambar, dan metode interpretasi.
Untuk penggunaan sehari-hari, drone dengan kamera biasa dapat membantu dokumentasi visual. Sementara itu, pemantauan yang bertujuan menganalisis kondisi vegetasi secara lebih mendalam mungkin memerlukan sensor khusus dan keahlian pengolahan data.
Penting untuk dipahami bahwa gambar udara dapat menunjukkan gejala atau perbedaan kondisi tanaman, tetapi tidak selalu dapat menentukan penyebabnya tanpa pemeriksaan tambahan.
5. Drone untuk Komoditas Perkebunan
Pada komoditas perkebunan, drone juga memiliki potensi untuk mendukung pemantauan area dan pekerjaan tertentu yang sesuai dengan kemampuan perangkat.
Penggunaan untuk pemetaan dapat membantu memperoleh gambaran kondisi area perkebunan. Drone sprayer juga dapat dipertimbangkan untuk aplikasi tertentu apabila karakteristik tanaman, jarak tanam, ukuran tajuk, kondisi medan, dan metode aplikasinya mendukung.
Akan tetapi, kebun dengan pepohonan tinggi dan tajuk yang rapat memiliki tantangan berbeda dibandingkan lahan terbuka. Hambatan fisik, kebutuhan jangkauan aplikasi, dan kondisi angin di sekitar tajuk perlu diperhitungkan.
Karena itu, tidak tepat jika seluruh jenis perkebunan dianggap bisa menggunakan drone dengan pengaturan yang sama. Pemilihan perangkat dan metode kerja harus didasarkan pada kebutuhan komoditas serta hasil pengujian yang relevan.
Apa yang Menentukan Kesesuaian Drone untuk Setiap Tanaman?
Sebelum memutuskan menggunakan drone pertanian, ada beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan.
Karakteristik tanaman
Tinggi tanaman, bentuk tajuk, jarak tanam, dan kepadatan daun dapat memengaruhi metode aplikasi maupun pemantauan. Pengaturan yang sesuai untuk tanaman padi belum tentu tepat untuk sayuran atau kebun buah.
Luas dan kondisi lahan
Bentuk petak, kemiringan lahan, keberadaan pohon atau bangunan, serta akses menuju lokasi dapat memengaruhi perencanaan operasional. Lahan yang luas tidak otomatis selalu lebih mudah dikerjakan apabila memiliki banyak hambatan.
Tujuan penggunaan
Tentukan apakah drone akan digunakan untuk penyemprotan, pemetaan, pemantauan, penebaran benih, atau pekerjaan lainnya. Tujuan tersebut menentukan jenis drone, perlengkapan, dan kemampuan operator yang dibutuhkan.
Jenis bahan dan kebutuhan aplikasi
Untuk drone sprayer, jenis formulasi, dosis yang direkomendasikan, karakteristik semprotan, serta ketentuan penggunaan produk perlu diperhatikan. Pengaturan aplikasi harus mengikuti petunjuk produk, rekomendasi teknis, dan ketentuan keselamatan yang berlaku.
Keterampilan operator
Operator perlu memahami pengoperasian perangkat, pemeriksaan sebelum terbang, perencanaan jalur, kondisi cuaca, serta prosedur keselamatan. Kemampuan mengevaluasi hasil kerja juga penting agar teknologi digunakan sesuai kebutuhan.
Apakah Drone Pertanian Selalu Lebih Efisien?
Drone pertanian berpotensi membantu mempercepat pekerjaan tertentu dan mengurangi sebagian kebutuhan tenaga kerja manual. Namun, efisiensinya perlu dinilai berdasarkan kondisi operasional yang sebenarnya.
Perhitungan sebaiknya mencakup waktu persiapan, pengisian ulang, penggantian baterai, transportasi perangkat, perawatan, kebutuhan operator, dan evaluasi hasil aplikasi.
Pada beberapa lahan, drone mungkin menawarkan keuntungan operasional. Pada kondisi lain, metode darat atau kombinasi beberapa metode bisa lebih sesuai.
Hal yang tidak kalah penting adalah hasil pekerjaan. Untuk aplikasi pupuk atau pestisida, evaluasi perlu memperhatikan kesesuaian dosis, cakupan aplikasi, kondisi tanaman, dan hasil pengendalian. Untuk pemetaan, kualitas data serta kegunaannya dalam pengambilan keputusan menjadi aspek utama.
Dengan demikian, manfaat drone sebaiknya dinilai dari kesesuaiannya dengan kebutuhan budidaya, bukan hanya dari kecepatan terbang atau luas area yang dapat dilalui.
Peran Industri Drone Pertanian Indonesia
Meluasnya potensi penggunaan drone pada berbagai komoditas membuka peluang bagi industri drone pertanian Indonesia untuk mengembangkan perangkat yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Produsen tidak hanya perlu memperhatikan kapasitas muatan atau kemampuan terbang. Keandalan sistem aplikasi, kemudahan perawatan, ketersediaan suku cadang, dukungan teknis, dan kemudahan pelatihan operator juga penting.
Masukan dari petani, operator, penyuluh, dan lembaga penelitian dapat membantu pengembangan produk yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan.
Bagi pengguna, memahami kebutuhan budidaya sebelum memilih perangkat akan membantu menentukan teknologi yang tepat. Sementara bagi produsen, pengujian dan evaluasi pada beragam kondisi lahan menjadi bagian penting dalam pengembangan drone pertanian.
Kesimpulan
Drone pertanian tidak hanya berpotensi digunakan pada tanaman padi. Teknologi ini juga mulai dieksplorasi untuk budidaya sayuran dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu pada komoditas hortikultura serta perkebunan, bergantung pada jenis perangkat dan kondisi lapangan.
Penerapannya dapat mencakup penyemprotan, pemantauan tanaman, pemetaan lahan, dan pekerjaan lain yang didukung oleh sistem drone yang sesuai.
Namun, setiap komoditas memiliki karakteristik yang berbeda. Faktor seperti bentuk tanaman, kondisi lahan, tujuan penggunaan, pengaturan aplikasi, dan keterampilan operator perlu diperhitungkan sebelum teknologi diterapkan.
Dengan pemilihan perangkat yang tepat, pengujian yang memadai, serta evaluasi hasil kerja, drone dapat menjadi salah satu teknologi pendukung dalam pengembangan pertanian Indonesia yang lebih modern.
Sumber referensi: Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran (BRMP Sayuran), “BRMP Sayuran Dorong Modernisasi Pertanian dengan Penerapan Teknologi Drone”, 4 Februari 2026.
Komentar & Tanggapan
0Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda!